Minggu, 22 Oktober 2017

Google Memecat Karyawannya Yang Menulis Memo Anti-Keberagaman

id Google, Memecat, Karyawannya, Yang, Menulis, Memo, Anti-Keberagaman, James Damore, ahli IT , Plestarian, Gender, FB, Twitter, Medsos, Media Sosial
Google Memecat Karyawannya Yang Menulis Memo Anti-Keberagaman
Ilustrasi - Consumer Marketing Manager Google Indonesia Mira Sumanti (kiri) didampingi partisipan saat mengoperasikan aplikasi Google App Voice Search saat Kampanye #SelaluTauBdg Google Indonesia di Bandung, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra/Dok).
James Damore, ahli IT yang menulis memo tersebut, membenarkan pemecatannya, dan mengatakan lewat surat elektronik pada Senin bahwa dirinya telah dipecat karena melestarikan stereotip gender.
Silicon Valley (Antara/Reuters/Antara Megapolitan-Bogor) - Raksasa internet Google telah memecat karyawannya setelah seminggu dia menuliskan memo internal tentang adanya penyebab biologis di balik ketidaksetaraan gender di industri teknologi.

James Damore, ahli IT yang menulis memo tersebut, membenarkan pemecatannya, dan mengatakan lewat surat elektronik pada Senin bahwa dirinya telah dipecat karena melestarikan stereotip gender.

Damore mengatakan bahwa dia sedang menjajaki semua kemungkinan penyelesaian hukum, dan sebelum dipecat, dia telah mengajukan tuntutan ke Badan Hubungan Perburuhan Nasional AS (NLRB) dan menuduh manajemen petinggi Google telah mempermalukan dirinya.

Google mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat berbicara mengenai kasus individual karyawannya.

Kepala Eksekutif Google Sundar Pichai mengatakan kepada karyawannya dalam sebuah memo pada Senin bahwa memo anti-keberagaman tersebut melanggar Pedoman Perilaku dan melewati batasan yang akan memajukan stereotip gender berbahaya di tempat kerja, demikian dikutip dalam salinan memo.

Hingga saat ini belum diketahui dengan segera pihak berwenang hukum manakah yang akan dipilih Damore untuk dimintai bantuan hukum.

Karyawan non-serikat atau "at will" seperti sebagian besar pekerja teknologi, dapat dipecat besar-besaran di AS dengan alasan yang tidak ada hubungannya dengan  kinerja.

Departemen Tenaga Kerja AS kini sedang menyelidiki apakah Google melanggar hukum dengan membayar upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki, namun Google membantah tuduhan tersebut.

Damore menegaskan dalam dokumen yang menyebar di dalam perusahaan minggu lalu bahwa Google meninggalkan "bias yang menciptakan monokultur secara politis," yang mencegah karyawan dari diskusi jujur tentang keberagaman.

Ahli IT yang memiliki gelar doktor sistem biologi dari Universitas Harvard itu menyerang ide bahwa keragaman gender harus menjadi tujuan utama.

"Distribusi pilihan dan kemampuan pria dan wanita dibedakan karena penyebab biologis dan...perbedaan ini akan menjelaskan mengapa kita tidak dapat melihat representasi yang sama pada wanita dalam teknologi dan kepemimpinan," demikian tulis Damore dalam memo internal perusahaan pekan lalu.

Dia dengan cepat mendapat dukungan di media konservatif.

Pada Breitbart News, yang pernah dijalankan Steve Bannon yang kini menjadi kepada ahli strategi untuk Presiden Donald Trump, komentator semalam membahas apakah akan memboikot Google dan beralih ke layanan semacam Bing milik Microsoft.

Wakil Presiden Google untuk keberagaman, Danielle Brown, mengirimkan memo sebagai tanggapannya atas kehebohan akhir pekan lalu, dan mengatakan esai yang dibuat oleh ahli IT tersebut  adalah sebuah asumsi yang tidak tepat menhgenai gender.

Penerjemah: Devi/M. Anthoni.

Editor: M. Tohamaksun

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga