Pupuk tidak berkurang dari yang dulu. Ada sembilan juta (ton) sama dengan (tahun) yang lalu, bahkan tahun lalu hanya 8,2 juta ton pupuk.
Kabupaten Bogor (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memastikan  pasokan pupuk bersubsidi untuk para petani pada tahun ini jumlahnya tidak turun, tapi harus bertambah.

"Pupuk tidak berkurang dari yang dulu. Ada sembilan juta (ton) sama dengan (tahun) yang lalu, bahkan tahun lalu hanya 8,2 juta ton pupuk," ungkapnya usai membuka Training of Trainer Pengelolaan Pupuk Bersubsidi di Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP), Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis.

Namun, pupuk subsidi yang sebelumnya menyasar 70 komoditas pertanian, tahun 2023 menyisakan sembilan komoditas utama saja yakni padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu, kopi dan kakao.

Baca juga: Pupuk Indonesia siapkan stok pupuk bersubsidi hingga lini III sebanyak 1,45 juta ton

Syahrul Yasin mengakui bahwa sembilan juta ton pupuk yang dipasok ke petani masih jauh dari angka kebutuhan yang berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) mencapai 24 juta ton.

"Memang kurang, yang dibutuhkan sesuai RDKK di atas 24 juta, kesiapan negara sembilan juta sama dengan negara lain," kata Syahrul Yasin.

Ia berharap, distribusi pupuk bersubsidi dapat berjalan lancar ke seluruh daerah di Indonesia dengan bantuan dari gubernur hingga kepala dinas pertanian setempat.

Baca juga: Pupuk Indonesia terapkan aplikasi Rekan permudah petani dapatkan pupuk

"Kami berharap selain distribusinya bisa berjalan, dan ini harus diatur para gubernur dan bupati dengan penyuluh yang ada agar sesuai perencanaan yang ada," ujarnya.

Di samping itu, ia mewanti-wanti agar tidak ada pihak mana pun yang berani menyelewengkan distribusi pupuk bersubsidi.

"Monitornya yang baik. Saya berharap pengelolaan pupuk lebih baik, yang pasti pupuk tidak kurang. Kita berharap tidak ada yang bermain-main," jelas Syahrul Yasin.(KR-MFS)

Pewarta: M Fikri Setiawan
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026