Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berharap penanganan dan penyelesaian terhadap wabah virus corona dapat lebih cepat dibandingkan saat merebaknya wabah SARS atau Severe Acute Respiratory Syndrome tahun 2003 lalu.

"Semoga melihat ke dalam perspektif SARS, itu (virus corona) tidak akan lama. SARS kan delapan bulan jadi semoga yang ini kurang,” katanya di  Jakarta, Rabu.

Airlangga mengatakan penanganan virus corona harus segera diselesaikan karena berpotensi memberikan dampak negatif pada banyak sektor seperti manufaktur, pariwisata, farmasi, hingga pasar modal.

Baca juga: Bandara Soekarno-Hatta hentikan sementara penerbangan China

Ia memperkirakan jika wabah virus corona tidak segera selesai maka akan menurunkan perekonomian China sekitar 1 persen sampai 2 persen yang pada akhirnya menekan ekonomi Indonesia antara 0,1 persen hingga 0,29 persen.

"China diprediksi secara konsensus ekonomi akan turun 1 sampai 2 persen jadi kalau ke Indonesia itu 0,1 sampai 0,29 persen," ujarnya.

Sementara itu, Airlangga menuturkan seluruh jajaran pemerintahan di Indonesia sendiri telah diminta Presiden Joko Widodo untuk mengambil berbagai langkah dalam rangka mengantisipasi masuknya wabah itu ke dalam negeri.

“Kami ada rapat kemarin dan Pak Presiden minta kami untuk memonitor situasi,” katanya.

Baca juga: Dedie A Rachim hadiri Rakornas Penanggulangan Bencana 2020

Ia menyebutkan langkah yang diambil pemerintah antara lain adalah pada sektor kesehatan yaitu melakukan pencegahan masuknya virus corona ke Indonesia melalui pembatasan impor hewan liar dari China.

“Untuk barang masih diperbolehkan impor dari China,” ujarnya.

Baca juga: Negara G7 lakukan prosedur terpadu lawan virus corona

Ia pun mengatakan pemerintah akan terus memonitor dan mengevaluasi selama dua minggu ke depan terkait langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya terhadap dampak dari wabah virus corona.

“Kita monitor saja perkembangan berikutnya dan kita evaluasi dua mingguan untuk menentukan langkah selanjutnya,” ujarnya.
 

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2020