Bogor (Antara) - Objek wisata nasional Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Oktober 2013 menyuguhkan pertunjukan tradisi "Halloween" yang biasanya diadakan di Eropa, khususnya di Irlandia, serta Amerika Serikat melalui "Safari Malam".

"Pada bulan Oktober ini, pertunjukan bertema `Happy Halloween Night` akan diadakan di `Safari Malam` TSI Cisarua pada tanggal 12, 19, dan 26 Oktober," kata Direktur TSI Frans Manansang di Bogor, Selasa.

Didampingi Humas TSI Cisarua Yulius H Suprihardo, ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan program "Halloween" itu bertujuan untuk memberikan hiburan bagi para pengunjung "Safari Malam".

Frans Manansang menjelaskan, "Halloween" adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober, dan terutama dirayakan di Amerika Serikat.

Tradisi ini berasal dari Irlandia dan dibawa oleh orang Irlandia yang berimigrasi ke Amerika Utara.

Halloween dirayakan anak-anak dengan memakai kostum seram dan berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau cokelat sambil berkata "Trick or Treat".

Ucapan tersebut adalah semacam ancaman yang berarti "beri kami permen atau kami jahili".

Pada zaman sekarang, anak-anak biasanya tidak lazim menjahili rumah orang yang tidak memberi apa-apa.

Sebagian anak-anak masih menjahili rumah orang yang pelit dengan cara menghiasi pohon di depan rumah mereka dengan tisu toilet atau menulisi jendela dengan sabun.

"Halloween" juga identik dengan setan, penyihir, hantu goblin dan mahluk-mahluk menyeramkan dari kebudayaan Barat.

Sejarah "Halloween" berasal dari festival Sambain --dari bahasa Irlandia Kuno, Samain--yang dirayakan oleh orang Kelt zaman kuno.

Festival Sambain merupakan perayaan akhir musim panen dalam kebudayaan orang Gael, dan kadang-kadang disebut "Tahun Baru Kelt".

Orang Kelt yang menganut paganisme secara turun temurun menggunakan kesempatan festival untuk menyembelih hewan ternak dan menimbun makanan untuk persiapan musim dingin.

Bangsa Gael kuno percaya bahwa tanggal 31 Oktober, pembatas orang mati dan orang hidup menjadi terbuka.

Orang mati membahayakan orang hidup dengan membawa penyakit dan merusak hasil panen. Sewaktu merayakan festival, orang Gael menyalakan api unggun untuk membakar tulang-tulang dari hewan yang mereka sembelih.

Orang Gael menggunakan topeng untuk berpura-pura sebagai arwah jahat atau berusaha berdamai dengan mereka.

Menurut Frans Manansang, acara "Hallowen" di TSI telah dimodifikasi, di mana ada suasana mencekam gelap gulita, ditambah suara-suara yang menyeramkan, serta pijaran lampu-lampu yang berada dalam lampion labu, yang sangat terasa pada saat pengunjung melewati lokasi satwa dengan kereta wisata pada malam hari.

Selain itu, suasana menyeramkan juga dirasakan pada saat kereta wisata melintasi areal "permakaman Eropa" di lokasi satwa.

Kereta wisata ini akan membawa pengunjung berkeliling di lokasi satwa sambil melihat kehidupan satwa-satwa liar selama 45 menit.

Labu-labu yang didominasi warna oranye dan hitam, serta beberapa karyawan dan karyawati termasuk pemandu wisata yang menggunakan kostum ala "Hantu".

Sebagian lagi menggunakan kostum nenek sihir, bahkan ada yang menggunakan kostum ala bajak laut merupakan bagian dari program Halloween yang diselenggarakan di "Safari Malam" TSI Cisarua.

Acara lain yang tidak kalah menariknya adalah pertunjukan satwa di panggung terbuka dengan tema "Perburuan Satwa Liar" yang diadakan pada pukul 21.15 WIB, kemudian atraksi "Fire Dance" dan "Spektakuler Show" di Plaza Gajah pada pukul 21.50 WIB.

Pewarta: Oleh Andy Jauhari

Editor : Teguh Handoko


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2013