Palang Merah Indonesia (PMI) mengajak masyarakat untuk tetap mendonorkan darah menjelang periode mudik Lebaran guna menjaga ketersediaan stok darah nasional, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasien demam berdarah dengue (DBD) di tengah tren penurunan jumlah pendonor selama bulan Ramadhan.
Ketua Pengurus PMI Kota Jakarta Timur Drs. H.R. Krisdianto, M.Si mengatakan penurunan jumlah pendonor darah saat bulan puasa kerap terjadi karena sebagian masyarakat khawatir kondisi fisiknya akan melemah setelah mendonorkan darah.
"Harus kita sadari bahwa selama bulan puasa ada penurunan karena barangkali orang khawatir jika darahnya berkurang saat berpuasa. Namun, penurunan ini tidak signifikan," ujar Krisdianto di Jakarta, Kamis.
Ia mengakui stok darah memang mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Menurut dia, jumlah pendonor dalam kegiatan donor darah di Jakarta sebelumnya tercatat sekitar 5.000 orang, namun kebutuhan darah tetap harus dijaga agar dapat memenuhi kebutuhan rumah sakit.
Untuk mengantisipasi penurunan stok darah menjelang arus mudik Lebaran, PMI menyesuaikan jam operasional layanan donor darah dengan membuka pelayanan pada malam hari atau setelah waktu berbuka puasa agar masyarakat lebih leluasa mendonorkan darah.
PMI juga memastikan bahwa hingga saat ini ketersediaan stok darah secara umum masih mampu memenuhi kebutuhan dan belum ada laporan mengenai kekosongan golongan darah tertentu. Sebagai langkah antisipasi tambahan, PMI menyiagakan stok darurat serta memperkuat koordinasi lintas wilayah, termasuk dengan pemerintah Provinsi DKI Jakarta, guna memastikan distribusi darah tetap terjaga.
Baca juga: Pemantauan aktif vaksinasi dengue di Palembang resmi diluncurkan
Baca juga: Indonesia finalisasi RAN 2026--2029 kejar nol kematian dengue pada 2030
Di sisi lain, upaya pengendalian dengue juga diperkuat melalui peluncuran aliansi “United Against Dengue” oleh perusahaan biofarmasi Takeda Pharmaceutical Company bersama International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) dan PMI di Indonesia. Inisiatif ini bertujuan memperkuat pencegahan demam berdarah melalui kolaborasi lintas sektor, peningkatan edukasi masyarakat, serta intervensi berbasis komunitas.
Secara global, menurut data World Health Organization, pada 2024 tercatat sekitar 14,6 juta kasus dan 12.000 kematian akibat dengue. Sementara di Indonesia, data BPJS Kesehatan menunjukkan lebih dari 1,05 juta kasus rawat inap terkait dengue pada tahun yang sama dengan beban ekonomi hampir Rp3 triliun. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat edukasi, advokasi kebijakan, serta pemberdayaan masyarakat guna menekan penularan dan angka kematian akibat dengue.
Editor : Heri Sutarman
COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026