Sejarah Nasional Jilid X ini mencerminkan semangat penulisan sejarah, tidak saja sejarah tentang elit politik saja, akan tetapi juga menggambarkan sejarah rakyat biasa. Dalam konteks historiografi nasional, jilid ini menjadi penanda, bahwa sejarah tidak hanya mencatat masa lalu yang “jauh”, tetapi juga masa kini yang masih “hidup”.

Sejarah sebagai history in making, dalam penulisan ini maka perlu kehati-hatian dalam menilai, kedalaman, interprestasi, dan keberanian untuk mengakui bahwa sejarah kontemporer adalah ruang kontestasi makna. Oleh karena itu, maka perlunya menekankan pentingnya pendekatan multidispliner dan lintas perspektif dalam memahami setiap peristiwa reformasi yang kompleks.

Dalam jilid X ini kita dapat melihat bahwa setiap presiden menginginkan hal yang terbaik untuk negaranya. Sejarah sebagai sebuah cermin dan pembelajaran bagi genarasi selanjutnya. Tanpa belajar dari sejarah, kita tidak akan tahu tentang pelajaran yang dapat kita petik dari para pemimpin bangsa ini. 

Dalam politik, terkadang terdapat kesenjangan antar generasi. Misalnya, bagi generasi era Reformasi seringkali melihat sisi kekurangannya dari era sebelumnya. Mungkin tidak ada masalah jika perbedaan hanya terkait pandangan politik. 

 

Namun, ketika transisi pemerintahan menjadi persaingan yang keras antara satu pemerintahan dengan pemerintahan lain, tidak akan ada keberlanjutan dalam pembangunan negara. 

Itulah mengapa transisi rezim selalu sulit, padahal masyarakat sebenarnya lebih menginginkan prosesnya berjalan lancar. Semua pemimpin mengalami tekanan jabatan dan harus menghadapi krisis. Mereka semua dihadapkan pada keputusan “ya” atau “tidak” terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sangat kompleks dan serius pada saat krisis terjadi. 

Seorang pemimpin harus mampu menghadapi tantangan besar dalam melayani rakyat dan negara. Ketika para pimpinan menghadapi ujian hingga batasnya, mereka perlu memiliki karakter untuk memprioritaskan satu hal di atas segalanya— “kesatuan negara” dan “rakyat”. 

Kesatuan Negara dan Rakyat itulah yang telah ditunjukkan oleh para pimpinan pendahulu kita, sehingga mereka mengalahkan egonya.

Meskipun, para pemimpin pendahulu mempunyai kekuasaan  dan kekuatan penuh. Namun, para pemimpin kita lebih menempatkan rakyat dan persatuan diatas segalanya.  

Sikap negarawan telah mereka pilih sebagai bentuk kecintaan terhadap rakyat dan negara, sehingga kita dapat melihat  keutuhan bangsa dan berbagai capaian yang telah kita rasakan manfaatnya saat ini.

Jilid X ini juga menyajikan perkembangan gerakan perempuan dalam kontribusinya pada awal hingga pasca reformasi. Perubahan nyata dalam gerakan Perempuan tercermin dalam aktivitas meraka pada beberapa kebijakan pemerintah, seperti pembentukan komnas Perempuan, terbitnya Intruksi Presiden No.9 tahun 2000, terbitnya UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) dan UU Kesejahteraan Ibu dan Anak. 

 

 

Pewarta: Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, S.sos., M.Hum

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026