Di balik riuh perdebatan soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto, suara-suara kecil dari pelosok negeri justru menyambutnya dengan syukur yang tak berkesudahan.
Di tanah gersang dan sunyi, seperti Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, program ini hadir bukan sekadar agenda negara, ia menjelma harapan, bahkan kehidupan.
Setiap pagi, anak-anak yang dulu berangkat sekolah dengan perut kosong, kini duduk di bangku kelas dengan semangat yang baru. Di ompreng mereka tersaji nasi, sayur-sayuran segar, dan lauk pauk sederhana, namun penuh gizi.
Senyum merekah di wajah-wajah mungil yang selama ini akrab dengan rasa lapar. Bagi mereka, makanan itu bukan hanya untuk mengenyangkan, melainkan menjadi simbol bahwa negara hadir dan melihat mereka secara nyata, di tengah keterbatasan.
Guru-guru pun merasakan dampaknya. Konsentrasi siswa meningkat, semangat belajar tumbuh, dan ruang kelas selalu riuh oleh tawa dan percakapan.
Bukan hanya soal nutrisi, MBG membawa pesan bahwa pendidikan dan kesejahteraan bukanlah milik kota besar semata.
Trihana dan Yusuf
Trihana Verlita Tobias, siswa kelas 5 SMA PGRI Waingapu, tahu benar rasanya menahan lapar sejak Matahari belum naik.
Dengan langkah kecil, ia harus berjalan sejauh 2,2 kilometer menuju sekolah. Tidak ada sarapan, tidak ada camilan, hanya doa dan tekad untuk tetap belajar, meski perut kosong.
Senyum Trihana, kini tidak lagi sembunyi. MBG memberinya sarapan bergizi yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dari berita-berita di Pulau Jawa.
"Saya jadi bisa belajar lebih fokus, tidak pusing lagi di kelas," ujarnya, sembari memperlihatkan isi ompreng pagi yang sederhana kepada ANTARA.
Bagi anak ketiga dari lima bersaudara ini, makan bergizi bukan hanya mengisi lambung, tapi menyalakan kembali semangat belajar yang terkadang layu.
Ayahnya seorang pekerja lepas yang tiap hari berusaha keluar rumah, meski tidak pasti pulang membawa upah. Kakak pertamanya pun senasib, mengais rezeki dari pekerjaan yang tidak pasti.
Ibunya, sesekali membantu tetangga berjualan. Dalam rumah sederhana mereka, MBG adalah rezeki tidak terduga yang mengetuk pintu setiap pagi.
Kepala Sekolah SMA PGRI Waingapu Rambu Mbangi Rawambaku mengisahkan betapa sering anak-anak datang ke sekolah dalam keadaan lemas, bahkan beberapa kali harus dirujuk ke puskesmas karena sakit maag.
Anak-anak muridnya itu belajar sambil menahan perih di perut. Kini, tidak lagi. Anak-anak datang ke sekolah dengan wajah cerah.
Karena itu, program ini terus menjadi sandaran bagi mereka yang nyaris tidak punya.
Cerita serupa hadir dari Muhammad Yusuf, siswa kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Waingapu. Hidupnya lebih sunyi. Ibunya merantau ke Kalimantan, ayahnya telah lama tiada.
Di rumah setengah jadi, Yusuf tinggal bersama bibi dan adik perempuannya. Seragam sekolahnya sudah tipis, lusuh, dan penuh lubang, tapi ia tetap pergi ke sekolah, karena di sanalah ia bisa makan.
"Saya senang bisa makan bareng teman-teman," ucap Yusuf.
Sebagaimana hati seorang manusia, Yusuf kadang diliputi rasa iri ketika teman-teman di kelasnya membawa bekal jajan di sekolah. Ia hanya bisa mengelus dan bersahabat dengan rasa lapar.
Ia baru bisa mencicipi lezatnya makanan, ketika pulang ke rumah. Bahkan, di rumah pun Yusuf biasa berbagi mi instan dengan adiknya. Kadang telur mata sapi menjadi satu-satunya lauk.
Setelah ada program MBG, ia bisa makan pagi dengan menu bergizi. Omprengnya selalu bersih, tidak bersisa. Setiap suapan adalah kebahagiaan yang dulu tidak pernah ia rasakan.
Ia berharap lewat ompreng yang kini dia kenali setiap pagi, bisa mengantarkannya menuju impian menjadi seorang tentara.
Dapur Wilayah 3T
Pemerintah terus mengebut pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan fokus utama di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) agar semua sekolah dapat terlayani.
Percepatan ini tertuang dalam nota kesepahaman antara Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana.
Komitmen Kementerian PU untuk mendukung penuh konstruksi, panduan teknis, dan standarisasi bangunan dalam pembangunan fasilitas yang kini disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut.
Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut infrastruktur yang kokoh adalah kunci keberhasilan distribusi makanan bergizi kepada para pelajar.
Dukungan Kementerian PU terhadap pembangunan dapur MBG juga sejalan dengan visi PU 608. Visi ini bertujuan menurunkan Rasio Output Modal Inkremental (ICOR) di bawah 6, menekan kemiskinan hingga 0 persen, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
Pembangunan dapur MBG diharapkan dapat membuka lapangan kerja di tingkat lokal, memperkuat rantai pasok bahan pangan, serta memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.
Program MBG memang tidak luput dari kritik, tapi di pelosok negeri, program ini adalah penyambung hidup. Ia bukan sekadar proyek negara, melainkan bukti bahwa negara masih hadir menyauti kebutuhan warganya.
Dari balik bukit dan savana Sumba Timur, anak-anak, seperti Trihana dan Yusuf, menyimpan harapan sederhana, yakni bisa belajar tanpa lapar, bisa tumbuh tanpa lemah. Dan bagi mereka, MBG bukan hanya memberi makanan, tapi juga menumbuhkan asa masa depan.
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2025