Sudah mafhum dan menjadi pengetahuan bersama bahwa bulan Ramadhan memiliki begitu banyak keistimewaan bagi umat Islam.

Tidak sekadar bahwa bulan suci Ramadhan memiliki sedemikian banyak peluang untuk meraih pahala bagi umat Islam seluruh dunia yang melaksanakannya, namun juga Allah Subahanahu wa ta ala (SWT) menghapus dosa bagi hamba-Nya yang meminta ampun.

Ramadhan merupakan bulan yang istimewa bagi seluruh umat Islam karena sebagai bulan yang di dalamnya turun Al-Quran

Salah satu di antara keutamaan Ramadhan yang disunnahkan bagi umatnya adalah melaksanakan ibadah umrah di bulan Ramadhan, yang memiliki pahala besar.

Rujukan tentang itu didasarkan pada sejumlah hadits-hadits sahih.

Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (SAW) dalam hadis riwayat (HR) Bukhari dan Muslim bersabda, "Jika datang bulan Ramadhan, lakukanlah umrah. Karena umrah di bulan Ramadhan, senilai haji bersamaku." (HR. Bukhari 1782 dan Muslim 1256).

Dalam HR sahih Bukhari Muslim, disebutkan bahwa "Al umroh fi Ramadhan Hajjah". Artinya, umrah di bulan Ramadhan pahalanya setara dengan ibadah haji.

Sementara pada riwayat lain, Imam Muslim menyampaikan "Al-Umroh fi Ramadham Hajjah ma'i", artinya, umrah di bulan Ramadhan itu sama pahalanya dengan berhaji bersama Rasulullah.

Dalam redaksi yang lain, keutamaan umrah di bulan Ramadhan disampaikan dalam HR Ibnu Majah, yakni: "Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, umrah di bulan Ramadhan menyamai ibadah haji".

Dengan rujukan hadits-hadits sahih dimaksud, fenomena umrah pada Ramadhan 1444 Hjiriah (2023 Masehi) -- barangkali salah satunya adalah karena faktor pandemi COVID-19 dua tahun lebih -- menjadi magnet bagi umat Islam di semua penjuru dunia untuk berupaya memenuhi panggilan Allah SWT datang ke Tanah Suci, di Mekkah dan Madinah, Arab Saudi.

 Ustadz Adi Abdurrahman, seorang "muthawif", yang cukup lama studi di Mekkah, dan memandu jamaah umrah rombongan dari Marco Haji dan Umrah dan Radio Fajri Umrah pada akhir Maret hingga pekan pertama April 2023 menyatakan tidak semua orang, Allah SWT beri kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya untuk melaksanakan ibadah umrah di bulan Ramadhan, meski barangkali dia adalah mereka yang berkelimpahan harta. Jadi harus bersyukur bagi yang bisa melaksanakannya.

"Muthawif" adalah sebutan untuk orang yang menjadi pembimbing atau pemandu ibadah haji maupun umrah.
Jamaah umrah Ramadhan 1444 Hijriah dari Marco Haji dan Umrah dan Radio Fajri Umrah, saat mengunjungi kampus UIM, yang lokasinya tidak jauh dari Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi, awal April 2023. FOTO ANTARA/istimewa

Aktivitas ziarah

Entah sejak kapan rujukan waktunya, aktivitas dalam ibadah, seperti umrah dan haji, saat ini tak dapat dipungkiri, termasuk di dalamnya adalah kegiatan ziarah -- selain aktivitas utama beribadah -- yang umumnya mengunjungi sejumlah tempat sejarah di masa Rasulullah Muhammad SAW.

Ibadah haji dan umrah ada juga yang menyebut "ibadah ziarah". Walau tidak wajib, namun hampir semua jamaah haji dan umrah, umumnya tidak melewatkan wisata ziarah, karena memang banyak tempat ziarah yang dapat dikunjungi.

Di Kota Madinah, tempat ziarah yang sering menjadi tujuan, di antaranya Bukit Uhud, Masjid Kuba, Masjid Qiblatain, Masjid Khandak, Kebun Kurma, dan lainnya.

Sementara di Kota Mekkah, di antaranya Jabal Nur atau Gua Hira, Jabal Tsur, Jabal Rahmah dan tentu saja Masjidil Haram, di mana Ka'bah berada.

Ada yang menarik dalam aktivitas ziarah pada umrah Ramadhan 1444 Hijriah ini, yang kondisi pandemi memang belum dinyatakan berakhir.

Difasilitasi oleh "muthawif", Ustadz Ismail Faruqi, mahasiswa S2 Fakultas Tarbiyah Jurusan Kurikulum dan Metode Pengajaran Pelajaran Islam di Universitas Islam Madinah (UIM), puluhan anggota jamaah umrah dari Marco Haji dan Umrah dan Radio Fajri Umrah, berkesempatan mengunjungi kampus UIM, yang lokasinya tidak jauh dari Masjid Nabawi di Madinah.

 Menurut alumni Pondok Pesantren Modern Gontor itu, UIM saat ini menjadi salah kampus unggulan di dunia karena mahasiswa mancanegara studi di sini, dan mendapat beasiswa penuh dari pemerintah Arab Saudi.

Tentu saja, berkunjung ke kampus, yang kental dengan tradisi akademik-intelektualnya itu memiliki warna tersendiri, dari ziarah "konvensional" sebelumnya.

Saat rombongan datang ke kampus UIM, lalu dipandu Ustadz Muhammad Ibrohim, mahasiswa asal Indonesia yang studinya pada Diploma Pengajaran Bahasa Arab, dan diajak berkeliling ke semua lokasi di UIM.

Saat ini, sejak 2020, Rektor UIM dijabat Pangeran Prof Dr Mamduh bin Saud bin Tsunayyan Al Saud.

Pendidikan untuk S1 adalah Teknik Elektro King Saud University Riyadh (1996), S2 Teknik Elektro King Saud University Riyadh (2000) dan S3 Teknik Elektro McMaster University Kanada (2007).

Sebelum menjadi Rektor, perjalanan karirnya adalah Wakil Rektor Universitas Syaqra, Arab Saudi (2017-2020).

Assistant Professor, Teknik Elektro, Fakultas Teknik King Saud University (2012), Kaprodi S2 Energi Terbarukan, King Saud University 2016-2018

Kepala Pusat Studi Teknologi Energi Terbarukan King Saud University, 2014-2017

Pembina Pusat Studi Perusahaan Saudi untuk Keamanan dan Keandalan Sistem Elektro, King Saud University, 2013-2019

Penasihat, Institut Riset Energi di King Abdulaziz City for Science and Technology, 2013-2014

Wakil Direktur Institut Manufaktur Maju, King Saud University, 2012-2017 dan Wakil Kepala Pusat Unggulan Riset Material Rekayasa, King Saud University, 2009-2012
"Alhamdulillah 'ala kulli hal, Allah SWT memberi kesempatan kepada kami dalam ziarah umrah bisa mengunjungi Kompleks Universitas Islam Madinah," kata Dewi Alfatir, jamaah umrah yang bersama suami dan putranya ikut dalam kunjungan itu.

Selama menyaksikan dari dekat kompleks Universitas Islam Madinah, ia mengakui ada banyak pelajaran yang dapat dipetik, yakni pendidikan yang berkualitas perlu campur tangan pemerintah dan negara, karena mampu menjadi nilai tambah bagi suatu bangsa di kancah pergaulan internasional.

Dari rujukan yang diaksesnya, UIM termasuk universitas yang menjadi pilihan banyak lulusan SMA atau Madrasah Aliyah sederajat untuk melanjutkan pendidikannya.

Hal ini disebabkan karena kualitasnya sudah terbukti, selain juga adanya beasiswa dari pemerintah Arab Saudi, yang meliputi bebas biaya pendidikan, biaya hidup dan tiket PP untuk pulang ke Tanah Air satu tahun sekali.

Sistem seleksinya adalah "muqobalah" dengan mendasarkan pada penguasaan Bahasa Arab dan hafalan Al Quran. Oleh karena itu, kepada calon mahasiswa apabila ingin masuk ke UIM, mesti mempersiapkan bekal dimaksud, yakni Bahasa Arab dan hafalan Al Quran.

"Semoga anak kami Almuharibby Fathir Allah SWT izinkan bisa mengenyam pendidikan di Tanah Suci yang penuh keberkahan dan kemulian, dekat dengan Rasulullah SAW," demikian harapannya.

Berkaitan dengan UIM, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh membagi informasinya melalui laman https://atdikbud-riyadh.kemdikbud.go.id/wp/pembukaan-pendaftaran-universitas-islam-madinah/.


 

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Opsi ziarah umrah Ramadhan dengan tradisi intelektual di UIM

Pewarta: Andi Jauhary

Editor : M Fikri Setiawan


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2023