Sabtu, 23 September 2017

Ahli IPB Berantas Hama Timun Dengan Parasitoid

id Hama, Timun, mentimun, Diaphania indica, ulat, kupu-kupu, musuh alami, parasitoid, Apanteles taragamae Viereck, peneliti, Faperta, IPB, Prof. Damayant
Ahli IPB Berantas Hama Timun Dengan Parasitoid
Apanteles taragamae Viereck merupakan parasitoid gregarious (parasitoid yang hidup berkelompok dalam satu inang). (Ist).
Apanteles taragamae Viereck merupakan parasitoid gregarious (parasitoid yang hidup berkelompok dalam satu inang) yang mampu memarasit Diaphania indica.
Bogor (Antara Megapolitan) - Hama seringkali menyerang tanaman budidaya. Salah satunya Diaphania indica, ulat yang ketika dewasa berubah menjadi kupu-kupu yang menyerang mentimun.

Hama tersebut hidup dengan memakan daun, bunga atau buah mentimun. Hal ini mengurangi jumlah buah yang dihasilkan, menurunkan kualitas buah dan berdampak pada penurunan hasil panen.

Salah satu pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alaminya atau biasa disebut dengan parasitoid.

Apanteles taragamae Viereck merupakan parasitoid gregarious (parasitoid yang hidup berkelompok dalam satu inang) yang mampu memarasit Diaphania indica.

Penelitian tentang parasitoid A. taragamae masih sangat terbatas dan umumnya masih terpusat pada biologi, perilaku dan eksplorasi musuh alami.

Padahal pengendalian hayati dengan menggunakan musuh alami memerlukan pemahaman tentang dinamika populasi, pergerakan dari habitat alami ke pertanaman dan migrasi.

Oleh karena itu peneliti dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor  (Faperta IPB) terdiri dari: Prof. Damayanti Buchori, Dr. Evawaty S. Ulina,  Dr. Pudjianto dan Prof. Sjafrida Manuwoto melakukan penelitian terhadap serangga parasitoid yaitu serangga menguntungkan yang dapat menjadi musuh alami bagi hama.

Penelitian tersebut bertujuan mempelajari pola pemencaran A. taragamae pada lanskap pertanian.

Penelitian tersebut dilakukan di pertanaman mentimun di empat lanskap Kabupaten Bogor. Keempat lanskap pertanian itu yakni di Desa Bantarjaya, Mekarjaya, Cihideung dan Cibanteng.

Imago  atau serangga dewasa A. taragamae yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari larva D. indica yang terparasit di lapangan.

Parasitoid tersebut dilakukan penandaan menggunakan isotop 32P berwujud cair yang diaplikasikan melalui pakan imago parasitoid.

Sebanyak 750 imago parasitoid (sekitar 500 betina) yang digunakan dilepaskan di setiap lanskap.

Selanjutnya dilakukan penangkapan kembali setelah 48 jam pelepasan melalui koleksi inang (D. indica) dengan metode pengambilan langsung.

Hasil koleksi inang di setiap lahan bervariasi berkisar 1.200 hingga 8.500 individu.

Kemampuan parasitoid dalam memparasit atau membunuh hama tertinggi ditemukan di Bantarjaya (32,82 persen) sedangkan terendah di Mekarjaya (25,10 persen).
Berdasarkan hasil analisis pola baik itu A. taragamae maupun inangnya menunjukkan pola berkelompok.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa pemencaran parasitoid mengikuti keberadaan dari inangnya.

Peneliti ini juga melakukan pengukuran jarak terbang A. taragamae dari hasil tersebut menunjukkan bahwa parasitoid mampu terbang hingga terjauh 53,6 meter. Pola dispersal (penyebaran) dan kemampuan terbang parasitoid cenderung dipengaruhi oleh keberadaan inang dan bukan kondisi habitat sekitar lahan. (IRM/ris).

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga