Sabtu, 23 September 2017

Ngada NTT Potensial Jadi Destinasi Wisata Bahari

id Ngada, NTT, Nusa Tenggara Timur, Potensial, Jadi, Destinasi, Wisata Bahari, Staf Khusus, Menteri Pariwisata, Kemenpar, Arief Yahya, Labuan Bajo, Bid
Ngada NTT Potensial Jadi Destinasi Wisata Bahari
Pelajar saat berbincang dengan wisatawan asing di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/Dok).
Karena memiliki banyak pulau, daerah penghasil Kopi Bajawa ini punya peluang bersaing dengan Labuan Bajo.
Jakarta (Antara Megapolitan-Bogor) - Kabupaten Ngada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai potensial menjadi destinasi wisata bahari dan ekowisata yang diminati wisatawan.
    
Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Multikultural Hari Untoro Drajat dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, menjelaskan, Kabupaten Ngada memiliki banyak potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari dan ekowisata.
    
"Karena memiliki banyak pulau, daerah penghasil Kopi Bajawa ini punya peluang bersaing dengan Labuan Bajo," katanya.
    
Selain itu, kata dia, keberadaan cagar alam yang masih alami juga sangat memungkinkan untuk dipadukan dengan sektor pariwisata.
    
"Kita bisa mengambil contoh Ujung Kulon atau geopark-geopark yang ada di Indonesia, nyatanya bisa dikelola sisi pariwisatanya tanpa merusak alamnya. Keindahan bawah lautnya juga sangat menawan, hanya butuh pelatihan pengelolaan lebih serius lagi," kata Hari Untoro.
     
Hari Untoro merekomendasikan kepada para Yachter (wisatawan dengan kapal pesiar mini) untuk menjelajahi destinasi wisata di Ngada Kampung Bena.
    
Kampung megalitikum ini terletak di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, sekitar 19 km selatan dari Bajawa.
    
Kampung yang terletak di puncak bukit dengan pemandangan Gunung Inerie. Keberadaannya di bawah gunung merupakan ciri khas masyarakat lama pemuja gunung sebagai tempat para dewa. Destinasi ini menjadi langganan wisman asal Jerman dan Prancis.
     
"Kampung ini sama sekali belum tersentuh kemajuan teknologi. Arsitektur bangunannya masih sangat sederhana yang hanya memiliki satu pintu gerbang untuk masuk dan keluar. Hingga kini pola kehidupan serta budaya masyarakatnya tidak banyak berubah. Dimana masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka," kata Hari Untoro.
    
Hal itu juga dianggap sebagai daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin berkunjung sehingga bisa dikembangkan dengan tanpa menimbulkan kerusakan baik pada budaya maupun ekosistem yang ada. (ANT/BPJ).

Editor: M. Tohamaksun

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga