Kamis, 21 September 2017

Nilai Tukar Rupiah Antarbank Di Jakarta Menguat

id Nilai Tukar, Kurs, USD, USA, Indonesia, IDR, Rupiah, Antarbank, Jakarta, Menguat, Sejumlah, Sentimen, Positif, Dalam Negeri memberi, Pengaruh positi
Nilai Tukar Rupiah Antarbank Di Jakarta Menguat
Seorang pengunjung saat menunjuk spesimen uang Rupiah edisi khusus (uncut) yang diluncurkan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Manado, Provinsi Sulawesi Utara. (ANTARA FOTO/Adwit B Pramono).
Sejumlah sentimen positif dari dalam negeri memberi pengaruh positif pada pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar AS.
Jakarta (Antara Megapolitan-Bogor) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat pagi, bergerak menguat sebesar 15 poin menjadi Rp13.331 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.346 per dolar Amerika Serikat (AS).

"Sejumlah sentimen positif dari dalam negeri memberi pengaruh positif pada pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar AS," kata analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Jumat.

Reza Priyambada mengemukakan bahwa perkiraan Bank Indonesia pada tahun 2019 mendatang ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh 5,3-5,7 persen memberi harapan positif bagi pelaku pasar untuk menempat dana investasinya di dalam negeri.

Ia menambahkan bahwa penetapan satu harga pada bahan bakar minyak (BBM) di wilayah timur Indonesia untuk mengurangi kesenjangan dan kenaikan inflasi juga turut diapresiasi oleh pelaku pasar. Dengan begitu, ekonomi nasional akan dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Di sisi lain, lanjut dia, komentar Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menghentikan operasional pemerintahan bila rencana untuk membangun tembok pembatas AS-Meksiko tidak disetujui, menjadi faktor negatif bagi mata uang dolar AS.

"Kondisi politik di AS kurang kondusif, kondisi itu menahan pelaku pasar untuk mengakumulasi aset berdenominasi dolar AS, sehingga mata uang dunia cenderung terapresiasi, termasuk rupiah," katanya.

Sementara itu, Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan bahwa kebijakan ekonomi presiden AS yang tidak pasti membuat aset-aset berdenominasi dolar AS menjadi kurang menarik.

"Sebagian pelaku pasar cenderung jenuh terhadap dolar AS, namun jika ada pernyataan 'hawkish' dari The Fed dalam simposium Jackson Hole mengenai suku bunga dapat mendorong dolar AS terapresiasi," katanya. (Ant).

Editor: M. Tohamaksun

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga