Rabu, 20 September 2017

Israel Dan Rusia Membahas Soal Timur Tengah

id Israel, Rusia, Membahas, Timur Tengah, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Presiden Rusia, Vladimir Putin, Netanyahu, Putin, Arab, Minyak, Se
Israel Dan Rusia Membahas Soal Timur Tengah
Peta kawasan Timur Tengah. (Google.Co.Id/Dok).
Netanyahu mengatakan bahwa Israel telah melakukan lusinan serangan untuk mencegah penyelundupan senjata ke kelompok Hizbullah Lebanon yang didukung Iran melalui Suriah.
Yerusalem (Antara/Reuters/Antara Megapolitan-Bogor) - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan membahas Timur Tengah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin saat mereka bertemu di tempat peristirahatan Sochi, Rusia, pekan depan, kata kantornya pada Sabtu.

Israel khawatir Iran membangun pangkalan militer di Suriah. Netanyahu mengatakan dalam pidato pada pekan lalu bahwa Israel mengawasi perkembangan itu dan akan bertindak melawan ancaman apa pun.

Iran, musuh bebuyutan Israel, adalah pendukung setia Presiden Suriah Bashar al-Assad dan memasok petempur untuk membantunya.

Rusia, juga sekutu Assad, dianggap memegang keseimbangan kekuatan dalam mencapai kesepakatan mengenai masa depan Suriah.

Pemimpin Israel menunjuk pengaruh Teheran, yang terus meningkat di wilayah tersebut selama perang Suriah, yang telah berlangsung enam tahun, baik melalui pasukan Garda Revolusi maupun kelompok Syiah-nya, khususnya Hizbullah.

Netanyahu mengatakan bahwa Israel telah melakukan lusinan serangan untuk mencegah penyelundupan senjata ke kelompok Hizbullah Lebanon yang didukung  Iran melalui Suriah.

Dua tahun lalu, Israel dan Rusia sepakat untuk mengkoordinasikan tindakan militer di Suriah agar tidak terjadi serangan yang tidak disengaja.

Sebelumnya seorang politikus penting dan penasehat media Presiden Suriah Bashar al-Assad menuduh koalisi pimpinan AS berusaha memecah Suriah, dan mengatakan rencana itu akan gagal.

Di dalam wawancara dengan stasiun televisi pan-Arab Al-Mayadeen, yang ditayangkan pada pekan lalu, Bouthaina Shaaban mengatakan, "Membidik rakyat di Ar-Raqqah --ibu kota IS-- dan kejahatan terhadap mereka memicu pertanyaan dan sangat mungkin Amerika Serikat berusaha meneror warga Arab di Ar-Raqqah agar mereka meninggalkan daerah tersebut agar mereka bisa memiliki wilayah cocok bagi federasi atau pembentukan wilayah Kurdi di Suriah Utara."

Amerika Serikat akan gagal memecah-belah Suriah "sebab rakyat Suriah itu satu", kata wanita pejabat itu sebagaimana dikutip Xinhua.

Pernyataannya dikeluarkan saat koalisi pimpinan AS memberi dukungan kuat kepada Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang dipelopori suku Kurdi --yang memerangi IS di Ar-Raqqah.

Namun, pembunuhan warga sipil setiap hari mendorong Pemerintah Suriah mengutuk kejahatan koalisi pimpinan AS di Ar-Raqqah dan mendesak PBB agar membubarkan koalisi tersebut.

Meskipun SDF bergerak maju di dalam Ar-Raqqah, militer Suriah dan pasukan suku bergerak maju dalam perang melawan kaum fanatik di wilayah pinggiran, dan mendekati kota kecil terakhir yang dikuasai IS di pinggir timur Ar-Raqqah.

Pasukan militer dan tentaranya sudah merebut kembali pinggir barat dan Selatan Ar-Raqqah.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF), sebuah kelompok aliansi pendukung sekutu gabungan, mulai menyerang Ar-Raqqah pada Juni, setelah satu bulan mengepung kota tersebut.

Pasukan gabungan pimpinan AS membantunya dengan melakukan serangan udara dan memberikan dukungan beberapa senjata berat dari pasukan khusus.

Kelompok IS mengalami kemunduran selama 18 bulan belakangan atas sebagian besar wilayahnya di Suriah akibat diserang tiga pasukan lawannya: SDF, tentara Suriah, dan kelompok pemberontak dukungan Turki.

Penerjemah: G.N.C. Aryani/B. Soekapdjo.

Editor: M. Tohamaksun

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga