Selasa, 22 Agustus 2017

Peneliti IPB Manfaatkan Lempuyang dan Mengkudu untuk Atasi Penyakit Pernafasan pada Ayam

id IPB, lempuyang, penyakit ayam, pernafasan, Lina Noviayanti Sutardi bersama dosen pembimbing Ietje Wientarsih, Ekowati Handharyani, Andriani, Agus Seti
Peneliti IPB Manfaatkan Lempuyang dan Mengkudu untuk Atasi Penyakit Pernafasan pada Ayam
Lempuyang. (ist).
Secara tradisional lempuyang digunakan untuk terapi asma, batuk dan penyakit kulit.
Bogor (Antara Megapolitan) - Tanaman obat telah digunakan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan hewan. Hal ini seiring dengan perkembangan peningkatan populasi unggas di Indonesia.

Akan tetapi, jumlah populasi unggas yang meningkat seringkali diikuti dengan berbagai macam kendala.

Salah satu diantaranya adalah berjangkitnya penyakit patogen seperti infeksi saluran pernapasan atau bisa disebut juga penyakit chronic respiratory disease (CRD) yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum dan Escherichia coli. Penyakit ini sangat merugikan peternakan ayam di seluruh dunia.

Kerugian ekonomi yang terjadi berupa turunnya bobot badan, efisiensi pakan, produksi telur, daya tetas telur, dan kenaikan kematian embrio.

Sampai saat ini banyak peternakan yang tidak pernah bebas dari penyakit tersebut, terutama peternakan ayam pedaging.

Hal ini dikarenakan adanya kendala dalam pengobatan penyakit infeksi tersebut. Penggunaan antibiotik telah dilakukan, tapi menimbulkan dampak negatif seperti menyebabkan bakteri menjadi resisten atau kebal dan residu yang ditinggalkan akan berbahaya jika dikonsumsi manusia.

Para peternak menggunakan tanaman obat untuk mengatasi infeksi saluran pernafasan pada ayam berdasarkan pengalaman menggunakan lempuyang dan buah mengkudu.

Secara tradisional lempuyang digunakan untuk terapi asma, batuk dan penyakit kulit.

Sedangkan buah mengkudu digunakan untuk menghilangkan gejala flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri dan batuk.

Komponen utama lempuyang mempunyai aktivitas antibakteri adalah zederone dan zerumbone sedangkan senyawa aktif yang terkandung pada buah mengkudu adalah fenol, iridoid, deacetylasperulosidic acid dan asperulosidic yang berperan sebagai antibakteri.

Untuk menemukan bukti secara ilmiah, mahasiswa Pascasarjana Program Studi Ilmu Biomedis Hewan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Lina Noviayanti Sutardi bersama dosen pembimbing Ietje Wientarsih, Ekowati Handharyani, Andriani dan Agus Setiyono melakukan penelitian berjudul Aktivitas Ekstrak Rimpang Lempuyang dan Buah Mengkudu untuk Pengendalian CRD pada Ayam.

Melalui penelitian ini diharapkan dapat ditetapkan parameter standard mutu ekstrak, kandungan zat aktif yang terkandung, aktivitas antibakteri dan alternatif terapi CRD pada ayam, ujar Lina.

Hasil ekstraksi pada penelitian ini telah memenuhi persyaratan dalam Farmakope Herbal Indonesia. Persyaratan tersebut antara lain nilai rendemen, kadar air, kadar abu total dan kadar abu tak larut asam.

Hasil ekstrak lempuyang mengandung flavonoid, alkaloid, terpenoid, dan tanin. Sedangkan ekstrak mengkudu mengandung antrakuinon.

Tahapan yang dilakukan untuk mendapatkan ekstrak tersebut melalui uji in vitro (uji di laboratorium) dan uji in vivo (uji coba langsung ke unggas).

Pengujian secara in vivo dilakukan untuk memperoleh aktivitas antibakteri terhadap Mycoplasma gallisepticum dan Escherichia coli.

Ekstrak simplisia lempuyang gajah dan buah mengkudu merupakan kombinasi terbaik, sehingga dipilih untuk dilakukan pengujian in vivo.


Uji in vivo menggunakan ayam specific pathogen free (bebas patogen tertentu) yang diinfeksi Mycoplasma gallisepticum dan Escherichia coli.

Ekstrak simplisia lempuyang gajah dan buah mengkudu diberikan pada ayam selama 14 hari. Hasil uji ini menunjukkankedua ekstrak tanaman ini terbukti dapat menurunkan infeksi CRD pada ayam percobaan.

Kedua ekstrak ini dapat meningkatkan pertambahan bobot badan dan memperbaiki kondisi ayam. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar penggunaan kombinasi ekstrak simplisia lempuyang gajah dan buah mengkudu sebagai alternatif terapi CRD pada ayam.(AT/NM)

Editor: Andi Firdaus

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga