Selasa, 22 Agustus 2017

Alat Ekstraksi Minyak Atsiri Karya Mahasiswa IPB, Lolos PIMNAS 2017

id OHMIC1.6, Alat Ekstraksi, Minyak Serai Wangi, PIMNAS 2017, Universitas Muslim Indonesia Makassar, Makasar, Angga Khalifah Tsauqi, mahasiswa, Institut
Alat Ekstraksi Minyak Atsiri Karya Mahasiswa IPB, Lolos PIMNAS 2017
Foto bersama tim inovasi Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Teknologi (PKM-T) IPB di depan alat karya mereka berjudul 'OHMIC1.6' alat ekstraksi minyak serai wangi tepat guna dan efisien. (Humas IPB/Angga Khalifah Tsauqi dan Tim).
OHMIC1.6 adalah inovasi baru di bidang ektraksi minyak atsiri khususnya minyak atsiri dari tanaman serai wangi.
Bogor (Antara Megapolitan) - Inovasi yang dikembangkan sekelompok mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terdiri dari Angga Khalifah Tsauqi, Sri Nurjanah, Soffi Lutfia Dewi Trizana dan Ilham Maulidin berhasil lolos Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), Agustus 2017 di Universitas Muslim Indonesia Makassar Makasar. Mereka merupakan salah satu dari 31 kelompok yang berasal dari IPB yang lolos PIMNAS ke 30 yang diadakan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Dengan bimbingan dari Dr. Heriyanto Syafutra, tim ini mengembangkan alat yang bisa mengekstraksi minyak atsiri. Inovasi Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Teknologi (PKM-T) mereka berjudul ''OHMIC1.6'': Alat Ekstraksi Minyak Serai Wangi Tepat Guna dan Efisien''.

OHMIC1.6 merupakan sebuah alat ekstraksi minyak atsiri serai wangi yang memanfaatkan konsep pemanasan Ohmic atau pemanasan Joule. Pemanasan Ohmic merupakan pemanasan produk pangan dengan menggunakan aliran listrik yang dialirkan melewati produk.

Alat ekstraksi ini berbentuk tabung yang diberikan plat stainless steel pada kedua sisi  untuk menghantarkan panas yang diperoleh dari listrik.

''OHMIC1.6 adalah inovasi baru di bidang ektraksi minyak atsiri khususnya minyak atsiri dari tanaman serai wangi. Alat ini memanfaatkan pergerakan elektron yang mengalir pada plat yang dipasang pada sisi berlawanan tabung. Arus listrik AC yang mengalir telah melewati kontrol sehingga proses ekstraksi dapat diatur secara otomatis. Pemilihan bahan baku stainless steel dikarenakan lebih mudah untuk ditemukan di Pulau Jawa.'' ujar Angga Khalifah Tsauqi.

Dengan memanfaatkan kebun serai wangi (Cymbopogon Nardus L.) milik PT MB Plus Agro yang telah menjadi mitra selama uji coba alat ini, mereka berusaha mengembangkan alat ekstraksi yang sebelumnya hanya menggunakan metode konvensional yang biasa. Yakni berupa tabung yang dipanaskan dengan kayu bakar.

''Metode konvensional memanfaatkan bahan bakar berupa kayu bakar, minyak tanah atau solar untuk memanaskan tungku sehingga dapat menguapkan air panas yang akhirnya dapat membuka pori-pori serai wangi. Setelah itu minyak atsiri yang terapung di atas air diambil secara manual. Proses dengan metode tradisional ini membutuhkan waktu yang lama, serta pengambilan minyak secara manual ini dapat menurunkan kualitas minyak.'' tambahnya.

Angga menambahkan bahwa OHMIC1.6 ini ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi seperti yang ditimbulkan ketika pemanasan menggunakan solar atau kayu bakar.

OHMIC1.6 mudah dalam penggunaan karena dilengkapi dengan sistem otomatis untuk menjaga suhu ekstraksi tidak melebihi batas yang telah diatur sebelumnya sehingga mengurangi resiko kualitas hasil rendemen yang rendah.

Metode yang diterapkan oleh PKM-T OHMIC1.6 ini juga dapat diterapkan tidak hanya untuk ekstraksi minyak serai wangi tetapi juga dapat digunakan untuk ekstraksi minyak atsiri dari tanaman lainnya.

''Mereka berharap alat OHMIC 1.6 yang sedang dalam proses pengajuan paten ini  dapat menjadi salah satu terobosan baru dalam bidang ekstraksi minyak atsiri yang dapat menjaga kualitas serta meningkatkan produksi minyak atsiri,'' tandasnya.  (GG/Zul)

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga