Senin, 24 Juli 2017

Panen IPB 3S Untuk Benih Nasional

id panen, padi IPB 3S, Benih Nasional, swasembada benih, Keamanan pangan, pertanian, Institut Pertanian Bogor, IPB, Cariu, Bogor, Rektor IPB, Prof. Dr.
Panen IPB 3S Untuk Benih Nasional
Rektor IPB, Prof. Dr. Herry Suhardiyanto saat bersamma tim pendampingan petani terdampak wereng beserta masyarakat di Kabupaten Subang, Jawa Barat. (Humas IPB).
Ini merupakan salah satu upaya kita untuk menekan impor beras yang terus terjadi di negeri ini tanpa memperhatikan petani kecil dan penggarap lahan.
Bogor (Antara Megapolitan) - Keamanan pangan tidak selalu hanya melihat dimensi stabilitas harga pangan, tetapi juga harus tetap memperhatikan efisiensi usaha tani. Efisiensi pertanian dimulai dengan swasembada benih, ketersediaan pupuk dan konsolidasi pertanian.  

Beban yang diterima petani sejak pengadaan benih harus selalu diperhatikan agar petani mendapat keuntungan yang memadai dari kegiatan pertanian.

Dengan adanya komitmen ini dan dukungan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI untuk mengembangkan inovasi bidang pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) kembali melakukan panen padi IPB 3S di Cariu Bogor, (11/7).

Panen padi IPB 3S di daerah Jonggol Bogor kali ini dilakukan bersama oleh Rektor IPB, Prof. Dr. Herry Suhardiyanto bersama Bupati Bogor serta jajaran Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat dan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI dan juga didampingi oleh pimpinan Fakultas Pertanian, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB, dan tim peneliti IPB.

Tim peneliti padi IPB dihadiri oleh Dr. Eny Widayati, Dr. Abdul Qadir, Ir. Murdiyanto, MS dan Ahmad Zamzami SP, MS.

Dalam kesempatan ini secara simbolis juga diserahkan bantuan benih padi oleh Rektor IPB kepada Bupati Bogor.  Sementara itu, Bupati Bogor juga ikut menyerahkan bantuan ALSINTAN berupa combine hasvester kepada petani Cariu.

Rektor IPB menekankan pentingnya konsolidasi pertanian dan mengajak seluruh komponen masyarakat untuk terus secara konsisten mengelola lahan pertanian, dan meningkatkan produksi padi serta menjaga lahan pertanian yang makin hari makin berkurang.

''Ini merupakan salah satu upaya kita untuk menekan impor beras yang terus terjadi di negeri ini tanpa memperhatikan petani kecil dan penggarap lahan.  Untuk itu IPB berkomitmen terus mencari solusi terbaik bagi petani untuk mendapatkan hasil yang lebih baik,'' ujar rektor.

Padi IPB 3S temuan inovator IPB Dr. Hajrial  memiliki beberapa keunggulan, diantaranya bulirnya yang banyak yang bisa mencapai 300-400 bulir per malai; dan posisi daun yang tegak sehingga dapat menangkap cahaya dan fotositensisnya lebih baik.

IPB 3S daun benderanya tegak ke atas melebihi malai padi, sehingga melindungi bulir padi dari serangan hama burung. Karenanya padi IPB 3S memiliki keuntungan karena memiliki daya tahan yang lebih baik dari jenis tanaman lainnya.

Bupati Bogor pada kesempatan tersebut menyampaikan ucapan terimakasih kepada IPB atas kerjasama dalam mendukung berbagai kegiatan khususnya bidang pertanian.

Kegiatan pengembangan padi IPB 3S di Kabupaten Bogor telah dimulai sejak tahun lalu dengan menanam lahan sawah seluas 50 hektar di Kecamatan Tanjung Sari.

Pada saat itu Kemenristekdikti secara simbolik memulai proses penanaman sebagai upaya peningkatan START-UP benih.  Selanjutnya dicanangkan kegiatan mandiri benih dengan luas area tanam seluas 8 hektar yang terdiri dari area benih 3 hektar dan konsumsi seluas 5 hektar.

Program mandiri benih ini diperluas pada tiga daerah kabupaten, yaitu Bogor Jawa Barat, Pinrang-Sulawesi Selatan dan Banyuasin di Sumatera Selatan.

Inovasi padi IPB 3S menjadi sebuah keunggulan Indonesia untuk mendongkrak produksi padi nasional.  Karena disadari saat  varietas yang ada sekarang sudah stagnan dan mencapai kondisi leveling off,  penanaman padi IPB 3S di berbagai wilayah Indonesia diharapkan dapat mendongkrak surplus beras  nasional, dan tidak lagi bergantung pada impor.

Dengan cara ini kita bisa membantu peningkatan kesejahteraan petani dan menghentikan kartel impor yang terus merugikan petani kecil.   (***/nm) 

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga