Kamis, 24 Agustus 2017

Peneliti IPB Rancang Optimalisasi Produksi Benih Koro Pedang

id Peneliti IPB, IPB, Bogor, dramaga, Koro Pedang, Tatiek Kartika Suharsi, Memen Surahman, holkultura, fakultas pertanian,
Peneliti IPB Rancang Optimalisasi Produksi Benih Koro Pedang
Tanaman koro pedang. (Foto Humas IPB)
Koro pedang mempunyai potensi sebagai alternatif pangan pendamping kedelai. Sebab produktivitas koro pedang lebih tinggi dibandingkan kedelai, yaitu tujuh ton per hektare dan potensi hasil mencapai 12 ton per hektare. Kandungan protein koro pedang juga terbilang tinggi, mencapai 30,36 persen. 

Pertumbuhan koro pedang sangat optimal bila mendapatkan sinar matahari penuh, tetapi pada kondisi ternaungi masih mampu menghasilkan biji dengan baik. Pengembangan koro pedang memerlukan benih koro bermutu tinggi. 

Untuk itu, Dr Tatiek Kartika Suharsi, Prof. Dr. Memen Surahman dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian (Faperta) Institut Pertanian Bogor (IPB) beserta Abdullah Sarijan mahasiswa Pascasarjana IPB melakukan penelitian fenologi tanaman koro. 

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh naungan, pemangkasan dan jarak tanam terhadap karakter tanaman, pertumbuhan, dan produksi serta mutu benih koro. Penelitian yang dilakukan di Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor ini dilaksanakan pada pertengahan tahun 2016 lalu. 

Terdapat beberapa percobaan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu, Percobaan 1, fenologi koro pedang pada kondisi naungan; Percobaan 2 dan 3 pengaruh pemangkasan cabang, batang, serta pengaturan jarak tanam terhadap karakter tanaman, pertumbuhan, produksi, dan mutu benih koro pedang. Ketiganya menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan rancangan perlakuan petak terbagi, diulang tiga kali. 

Hasil percobaan 1 menunjukkan bahwa naungan 10 persen menyebabkan tanaman mengalami etiolasi, jumlah daun rendah, luas kanopi, dan ruas batang tanaman lebih panjang, jumlah inflorescent per tanaman nyata lebih rendah. Bobot biji/polong tidak berbeda pada tanaman ternaungi 0, 10, dan 20 persen.  

Pada percobaan 2 menunjukkan umur berbunga tanaman yang dipangkas cabang menghasilkan tanaman lebih pendek, jumlah infloresen/tanaman lebih tinggi. Tanaman yang dipangkas batangnya menghasilkan jumlah buku produktif sedikit.  

Hasil percobaan 3 menunjukkan tanaman tanpa pemangkasan ditanam dengan jarak tanam 100 x 100 cm menghasilkan jumlah infloresen/tanaman tertinggi, berbunga lebih cepat, jumlah polong bernas/infloresen lebih banyak, jumlah polong bernas/tanaman terbanyak, dan periode panen terpanjang. 

Karakter produksi terbaik dihasilkan tanaman tidak dipangkas ditanam dengan jarak tanam double row 50 x 50 cm. Perlakuan terbaik tersebut menghasilkan produktivitas tertinggi. (ir/nm)

Editor: M.Ali Khumaini

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga