Selasa, 25 Juli 2017

Waspada! TBC Di Sekitar Kita

id TBC, tuberkulosis, batuk, periksakan diri, puskesmas, laboratorium, Dr. Dedet B. Utoyo, Msc, ketua PPTI Kota Bogor, Drg. Dewi Windari, Wakil Sekretari
Waspada! TBC Di Sekitar Kita
Petugas Dinas Kesehatan Kota Bogor, Jawa Barat, melakukan sosialisasi bahaya penyakit tuberkulosis (TBC) dan pemeriksaan kesehatan melalui program 'Ketuk Pintu'. (Foto Antara/Humas Kota Bogor).
Kepada para penderita TBC yang memeriksakan diri di puskesmas dan beberapa rumah sakit tertentu akan diberikan obat secara gratis.
Waspada jika Anda sering batuk atau menderita batuklebih dari dua minggu. Apalagi jika disertai dengan berat badan menurun, berkeringat pada malam hari, merasa lemah, lesu dan kurang nafsu makan. Anda perlu waspada, karena hal iItu merupakan tanda-tanda dan gejala penyakit tuberkulosis (TBC).

Memang tidak setiap batuk pasti TBC. Tetapi jika kondisinya seperti itu, maka sebaiknya segera periksakan diri ke puskesmas. Minta kepada petugas laboratorium untuk memeriksa dahak dari batuk yang Anda alami. Selain
rontgen, pemeriksaan dahak merupakan langkah awal untuk bisa memastikan, apakah seseorang terkena TBC atau tidak.

Apabila pemeriksaan dahak hasilnya positif TBC, maka segeralah berobat.

“Kepada para penderita TBC yang memeriksakan diri di puskesmas dan beberapa rumah sakit tertentu akan diberikan obat secara gratis,” ungkap Dr. Dedet B. Utoyo, Msc,  Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kota Bogor.

Menurutnya pengobatan harus dijalani penderita dengan sangat disiplin. Mengikuti ketentuan pengobatan yang sudah ditetapkan selama 6 bulan berturut-turut dan tidak boleh terputus.

Selain berobat secara disiplin, penderita diharapkan selalu menggunakan masker. Setidaknya menutup mulut pada saat batuk atau bersin. Hal itu perlu dilakukan agar penderita tidak menularkan kuman TBC kepada orang-orang di
sekitarnya. Kuman tersebut dapat menular dengan sangat mudah dari penderita ke orang lain, karena kuman tersebut menebar lewat udara. Terutama pada udara yang lembab.

Kalau penderita tidak bersikap disiplin dalam melakukan pengobatan, akibatnya bisa fatal. Penderita bukannya membaik, malah sebaliknya bisa lebih parah.Selain akan menularkan Kepada orang lain terutama keluarga yang
tinggal satu rumah, kumannya akan semangkin kebal .

“Kalau sudah begitu status penderita meningkat dan masuk kategori MDR,” lanjut Dedet.

Ketika penderita sudah masuk ke dalam kategori MDR, pengobatan yang harus dijalani menjadi 2 tahun berturut-turut tanpa terputus.

Menurut Drg. Dewi Windari, Wakil Sekretaris PPTI Kota Bogor, penderita kategori MDR di Kota Bogor cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

“Sampai dengan tahun 2015 lalu, kami telah menemukan sekitar 90 penderita TB kategori MDR di Kota Bogor,” ungkapnya.

Realitas memprihatinkan inilah yang mendorong PPTI Kota Bogor tergerak untuk lebih intensif melakukan berbagai upaya pencegahan TBC.

PPTI Kota Bogor membantu Dinas Kesehatan Kota Bogor melakukan gerakan “Ketuk Pintu”. Ini merupakan langkah proaktif Dinkes Kota Bogor untuk mendata penderita tuberkulosis di Kota Bogor.

Gerakan yang akan melibatkan seluruh puskesmas dan para kader kesehatan ini, sekaligus akan dimanfaatkan untuk melakukan edukasi kepada masyarakat tentang penyakit membahayakan ini.

Melalui gerakan ini, diharapkan masyarakat akan semakin peduli terhadap bahaya penyakit TBC, yang selama ini senantiasa mengancam kesehatan masyarakat.

Kepedulian, pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya tuberkulosis memang masih perlu ditingkatkan. Hingga saat ini, tiga penyakit menular yang  menjadi perhatian utama masyarakat dunia termasuk
Indonesia adalah HIV-AIDS, Tuberkulosis dan Malaria.

Tingkat Kesakitan dan kematian yang diakibatkan serta besarnya jumlah orang yang terkena penyakit tersebut, menyebabkan ketiga penyakit itu tetap menjadi prioritas program kesehatan.

Besarnya tantangan dalam penanggulangan penyakit ini dapat dilihat dari hasil survey prevalansi tuberkulosis yang dilakukanoleh Badan Litbangkes Kemenkes RI tahun 2013 – 2014. Angka insiden TB adalah 399 per 100.000
penduduk dan angka prevalensi TB sebesar 647 per 100.000 penduduk (WHO,2015).

Jika jumlah penduduk Indonesia berkisar 250 juta orang maka diperkirakan ada sekitar 1 juta pasien TBC baru dan sekitar 1,6 juta pasien TBC setiap tahunnya. Sedangkan jumlah kematian karena tuberkilosis 100.000 orang per
tahun, atau 273 orang per hari.

Situasi tersebut menyebabkan Indonesia menempati peringkat ke-2 negara yang memiliki beban TBC tinggi di dunia, setelah India.

Laporan WHO tahun 2015 juga memaparkan, angka kasus baru yang ditemukan hanya 68% atau 676.000 kasus dari total 1.000.000 kasus. Berdasarkan data tersebut berarti masih ada sekitar 324.000 atau atau 32 % kasus baru yang yang masih belum ditemukan, diobati dan dilaporkan.

Menghadapi realitas itu maka kerjasama antara pemerintah, sektor swasta  dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  sangat diperlukan, sehingga dapat mendorong peningkatan penemuan kasus TBC, agar penderita dapat segera didiagnosis dan diobati hingga sembuh (TOSS).

Jika mengacu pada hasil survey tahun 2013 – 2014 angka insiden 339 per 100.000 penduduk maka Kota Bogor dengan Jumlah Penduduk 1 Juta jiwa, angka insiden berkisar 3.390 jiwa. Sementara hasil cakupan program TB tahun 2016 kota Bogor 2.283 masih jauh dari target yang telah ditetapkan.

Dan jumlah Pasien TB Resisten Obat (TB MDR) dari tahun 2014 – 2016 sebanyak 96 orang. Kasus TB dan kasus TB MDR tersebar diseluruh Kelurahan Kota Bogor.

Berdasarkan data tersebut Kota Bogor akan mengadakan pencananganan “ Gerakan Masyarakat menuju Indonesia Bebas TB” pada peringatan hari TB sedunia pada 24 maret 2017 dengan starategi gerakan “ Ketuk Pintu ”.

Gerakan ini untuk menemukan lebih banyak terduga TB, dan PPTI sebagai Pilot Project untuk kegitan ini di Kelurahan Marga Jaya dan akan dilanjutkan untuk semua Kelurahan di wilayah Kecamatan Bogor Barat.

(Advertorial).

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga