Minggu, 25 Juni 2017

Ribuan Pelayat Lepas KH Hasyim Ke Pemakaman

id KH Hasyim Muzadi, mewninggal, menantu, Arief Zamhari, Pesantren Alhikam, Kota Depok, pemakaman, Gedung Quliyatul Quran, mantan Ketua PBNU, Dewan Perti
Ribuan Pelayat Lepas KH Hasyim Ke Pemakaman
Warga sedang berdoa di sekitar pemakaman KH Hasyim Muzadi di lingkungan Pesantren Alhikam Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (16/3). (Foto Antara/Feru Lantara).
Semoga arwah almarhum diterima di sisiNya.
Depok (Antara Megapolitan) - Ribuan pelayat yang menghadiri upacara pemakaman KH Hasyim Muzadi di lingkungan Pesantren Alhikam Kota Depok melepas dengan duka yang mendalam.

Jenazah Hasyim Muzadi tiba di rumah duka Kamis sore sekitar pukul 16.15 WIB disambut dengan duka cita. Pelepasan jenazah dilakukan dengan upacara militer dengan Inspektur Upacara Jusuf Kalla.

Setelah disemayamkan di rumah duka selanjutnya dishalatkan di Masjid Pesantren Alhikam yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah duka.

Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin langsung upacara pemakaman tersebut.

"Semoga arwah almarhum diterima di sisiNya," kata Jusuf Kalla ketika memberikan sambutannya.

Upacara pemakaman juga diiringi lagu yang berjudul Gugur Bunga yang membuat suasana duka.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden KH Ahmad Hasyim Muzadi tutup usia pada usia 72 tahun, pada Kamis pukul 6.15 WIB di Malang, Jawa Tinur

Menurut informasi dari putra Hasyim, Yusron Shidqi, jenazah mantan Ketua PBNU tersebut akan diberangkatkan ke pesantren AlHikam Depok Jawa Barat, dari Malang Jawa Timur bakda dzuhur dan akan dishalatkan di pesantren tersebut.

KH Hasyim Muzadi lahir di Tuban 8 Agustus 1944, dan menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 19 Januari 2015.

Kyai Haji Ahmad Hasyim Muzadi lahir di Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944. Dia adalah salah satu tokoh dan intelektual Islam utama Indonesia yang pernah menjabat ketua umum Nahdlatul Ulama dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 19 Januari 2015.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam di Malang dan Depok ini sempat mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor dari 1956 sampai dengan 1962.

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga