Kamis, 27 April 2017

Hasyim Minta Dimakamkan Di Depok

id KH Hasyim Muzadi, mewninggal, menantu, Arief Zamhari, Pesantren Alhikam, Kota Depok, pemakaman, Gedung Quliyatul Quran, mantan Ketua PBNU, Dewan Perti
Hasyim Minta Dimakamkan Di Depok
Petugas sedang melakukan penggalian makam KH Hasyim Muzadi yang terletak di samping kiri Gedung Quliyatul Quran yang berada dilingkungan Pesantren Alhikam Kota Depok, Jawa Barat. (Foto Antara/Feru Lantara).
Sebulan sebelum meninggal, saya sempat jalan-jalan disekitar Pesantren bersama almarhum dan beliau minta dimakamkan di sini.
Depok (Antara Megapolitan) - Menantu KH Hasyim Muzadi, Arief Zamhari menyatakan pemakaman yang dilakukan di Pesantren Alhikam di Kota Depok Jawa Barat sesuai permintaan almarhum sebulan sebelum meninggal dunia.

`Sebulan sebelum meninggal, saya sempat jalan-jalan disekitar Pesantren bersama almarhum dan beliau minta dimakamkan di sini,` kata Arief ketika ditemui di rumah duka di Pesantren Alhikam Depok, Kamis.

Kondisi Hasyim ketika itu kata Arief memang kurang sehat tetapi masih bisa beraktivitas secara terbatas.

Arief mengatakan permintaan tersebut karena almarhum ingin mendengarkan santrinya membaca Alquran dan didoakan.

Makam KH Hasyim Muzadi terletak di samping kiri Gedung Quliyatul Quran yang berada dilingkungan Pesantren Alhikam Kota Depok Jawa Barat.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden KH Ahmad Hasyim Muzadi tutup usia pada usia 72 tahun, pada Kamis pukul 6.15 WIB.

Menurut kabar dari putra Hasyim, Yusron Shidqi, jenazah mantan Ketua PBNU tersebut akan diberangkatkan ke pesantren AlHikam Depok Jawa Barat, dari Malang Jawa Timur bakda dzuhur dan akan dishalatkan di pesantren tersebut.

Kyai Haji Ahmad Hasyim Muzadi lahir di Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944. Dia adalah salah satu tokoh dan intelektual Islam utama Indonesia yang pernah menjabat ketua umum Nahdlatul Ulama dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 19 Januari 2015.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam di Malang dan Depok ini sempat mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor dari 1956 sampai dengan 1962.

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga