Senin, 26 Juni 2017

Ahli Hutan IPB Kembangkan Obat Anti Malaria

id obat anti malaria, kayu Bidara Laut, Strychnos ligustrina, zat antimalaria, NTB, Nusa Tenggara Barat, Guru Besar Fakultas Kehutanan, IPB, Prof Dr Wasr
Kayu Bidara Laut memiliki kandungan zat antimalaria yang biasa digunakan oleh masyarakat di Nusa Tenggara Barat.
Bogor (Antara Megapolitan) - Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Prof Dr Wasrin Syafii mengembangkan beragam jenis obat dari ekstrak beberapa jenis pohon salah satunya obat anti malaria.

"Kayu Bidara Laut memiliki kandungan zat antimalaria yang biasa digunakan oleh masyarakat di Nusa Tenggara Barat," kata Wasrin di Bogor, Senin.

Prof Wasrin telah melakukan penelitian kandungan zat antimalaria dari kayu Bidara Laut (Strychnos ligustrina). Masyarakat NTB telah menggunakanya sebagai obat tradisional.

Menurutnya untuk bisa menjadinya obat yang dapat dikonsumsi secara massal perlu penelitian lanjutan. Penelitian tercepat selama dua tahun dengan cara mengekstrak kayu Bidara Laut.

"Penelitian ini sangat penting karena persediaan obat malaria masih sangat sedikit, terlebih lagi penyakit ini merupakan masalah besar di Indonesia yang perlu segera ditangani," katanya.

Ia menjelaskan, hasil ekstraksi kayu bidara laut mengandung etanol dengan kadar cukup tinggi. Senyawa yang terkandung dalam etanol tersebut diantaranya adalah strikinin dan brusin yang disinyalir merupakan senyawa antimalaria.

Menurutnya, penelitian yang tengah dilakukannya untuk mengenai hasil hutan tidak hanya untuk industri kayu, tetapi suber obat, dan energi terbarukan.

Menurut penelitian kayu bidara laut untuk obat malaria, masih bersifat eksploratif dan masih dalam skala laboratorium secara in vitro.

"Penelitian tahap berikutnya adalah masih dalam skala laboratorium tetapi secara in vivo. Setelah itu baru dilanjutkan untuk scaling up," katanya.

Prof Wasri berkeinginan, penelitian yang telah dilakukannya dapat diaplikasikan dalam skala besar untuk memenuhi kebutuhan pasar. Namun, untuk produksi massal tentu saja diperlukan kerjasama dengan lembaga lain yang mempunyai kompetensi dalam cara-cara pembuatan seperti bio-farmaka, fakultas farmasi, atau dengan pabrik obat.

Tetapi, lanjutnya, bahan baku untuk pembuatan obat tersebut relatif mudah untuk didapatkan, kecuali pohon bidara laut saat ini sudah jarang ditemui sehingga bila akan dilakukan scaling up terhadap obat antimalaria dari pohon bidara laut diperlukan adanya budidaya pohon tersebut.

"Untuk membuatnya skala banyak perlu dilakukan budidaya agar dapat memenuhi suplai bahan baku," katanya.

Prof Wasri menambahkan, selain mengembangkan obat antimalaria, ia juga tengah melakukan penelitian terhadap kayu hutan yang dapat menjadi menjadi obat antikanker dan antidiabetes.

Pemanfaatan zat ekstraktif kayu menjadi beragam obat tersebut dimaksudkan agar semua bagian kayu dapat dimanfaatkan. Zat ekstraktif yang digunakan bersifat bioreaktif, sehingga sangat ideal bila digunakan sebagai bahan baku industri farmasi.

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga