Minggu, 24 September 2017

RESENSI - "Flat Earth" Pengungkap Bukti Ilmiah Bumi Datar

id RESENSI, Flat Earth, Eric Dubay, Buku, The Flat Earth Conspiracy, Pengungkap, Bukti, Ilmiah, Bumi, Datar, Bulat, Teman Minum Kopi, Libur, Beli, Murah
RESENSI -
Buku The Flat Earth Conspiracy, karya Eric Dubay. (ANTARA FOTO/Istimewa-Hanni Sofia/Dok).
Buku ini menjadi semakin menarik tatkala perwajahan sampul dan lay out di dalamnya dilengkapi dengan gambar-gambar pendukung. Maka buku ini sangat layak menjadi teman minum kopi di hari libur panjang.
The Flat Earth Conspiracy menjadi sebuah buku yang hadir untuk menolak kemapanan yang telah berjalan selama 500 tahun terakhir.
    
Buku karya Eric Dubay yang diterbitkan di Indonesia oleh Bumi Media tersebut seakan menjadi pengungkap fakta yang disembunyikan selama 500 tahun sekaligus menyajikan bukti-bukti ilmiah bahwa bentuk bumi bukan bulat melainkan datar!.
    
Buku setebal 416 halaman tersebut di awal pembahasannya mempertanyakan kebenaran bumi itu bulat dengan berbagai pertanyaan filosofis yang mencengangkan.
    
Bahkan Lacantius dalam On The False Wisdom of The Philosophers pun turut dikutip pernyataannya dalam buku tersebut.
    
"Sebuah bola dimana orang-orang di sisi lain menjalani hidup dengan kaki di atas dan kepala di bawah di mana air hujan, salju, dan hujan es jatuh ke atas, dimana pepohonan dan tanaman pangan tumbuh terbalik, dan langit lebih rendah daripada daratan? Keajaiban dunia kuno tentang Taman Bergantung Babilonia menjadi tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan bentangan lahan, laut, kota, dan pegunungan yang diyakini oleh para filsuf pagan menggantung dari bumi tanpa penyangga!" kata Lacantius.
    
Sementara Eric Dubay sendiri, sang penulis, menggugat konsep Copernicanism yang menganggap bahwa bumi berotasi pada sumbunya dan mengelilingi matahari pada orbitnya.
    
Ia pun mengutip pendapat Marshall Hall tentang Exposing The Copernican Deception.
    
"Ini adalah sebuah konsep yang telah bercokol di benak manusia sebagai dasar kokoh pengetahuan manusia modern yang tercerahkan. Hampir semua orang dimana-mana telah diajarkan untuk percaya dan memang percaya bahwa konsep ini didasari sains objektif dan penalaran sekuler yang tidak memihak."
    
Dubay dalam buku tersebut menuliskan bahwa selama 5 abad lebih dengan menggunakan segala bentuk media hingga gambar hasil rekayasa komputer, konspirasi multi-generasi ini telah berhasil mengubah pemikiran massa dengan mencomot citra bumi yang bergeming, mengubah bentuk bumi menjadi bulat, membuatnya berputar dalam lintasan berbentuk lingkaran.
    
"Dan membuatnya beredar mengelilingi matahari pada orbitnya," tulis Dubay.
    
Buku yang diterbitkan di Indonesia sejak November 2016 itu memuat 18 bab yang memuat berbagai pendapat ahli termasuk eksperimen yang telah dilakukan.
    
Salah satunya dalam bab 2 halaman 28 yang menyajikan eksperimen penembakan meriam secara vertikal dan horizontal ke semua arah mata angin.
    
William Carpenter dalam 100 Proofs the Earth is Not a Globe di buku itu menyebutkan bahwa gerakan bumi adalah omong kosong.

"Dan bahwa pernyataan yang mengokohkannya hanyalah omong kosong dan kekonyolan yang kekanak-kanakan ketika dikaji dengan mata yang mencari kebenaran," kata Carpenter.

Bukti-bukti
    
Eric Dubay telah mengumpulkan berbagai bukti yang disajikannya secara sistematis dalam bab-bab panjangnya.
    
Ia membahas mengapa bumi yang sebenarnya diam, tidak berputar, berlanjut pada bab air diam adalah air yang datang.
    
Selanjutnya ia membahas tentang kaki langit yang selalu horizontal, non-kurvatur bumi datar yang dapat diukur, pencerahan mengenai bumi datar melalui mercusuar, hingga terusan dan rel kereta api yang membuktikan bumi itu datar.
    
Tak berhenti sampai di situ Dubay pun berkeras bahwa bumi datar telah dibuktikan oleh pilot dan pelaut, sampai-sampai ia menyangkal bahwa kutub selatan itu ada.
    
Hal itu diteguhkannya dengan fakta tentang arktika dan antartika yang membuktikan bumi datar, matahari tengah malam membuktikan alam semesta sesuai dengan paham geosentris, dan ia pun berkisah tentang polaris sang bintang kutup utara.
    
Menurut Dubay, bulan menghasilkan cahaya sendiri dan semi-transparan, sementara kedudukan matahari dan bulan yang beroposisi dianggapnya seimbang, sama di langit.
    
"Bumi bukan planet, planet hanyalah bintang, dan bintang bukan matahari," hal itu dibahasnya tersendiri dalam sebuah bab pada halaman 179.
    
Dubay sekaligus menegaskan sikap bahwa relativitas tidak ada dan gravitasi juga tidak ada, sedangkan gerhana total pikiran.
    
Ia membuktikan sejumlah eksperimen dan pendapat meliputi tentang pelayaran keliling dunia dan hilangnya lambung kapal, bukti bandul foucault dan efek coriolis, hingga kultus penyembah matahari globalis Mason dalam NASA.
    
Dubay juga mengungap teorinya tentang berita palsu mengenai pendaratan NASA di bulan dan Mars hingga menurut dia evolusi adalah kebohongan, perencanaan intelijen adalah kebenaran.
    
"Manusia kera tidak pernah ada! Dinosaurus tidak pernah ada! Manusia raksasa pernah ada!" Sebutnya.
    
Hal yang ia bantah ia bahas secara panjang lebar berikut teori dan konsepnya yang betul-betul anti-copernicanism.
    
Sampai pada akhir bab ia menyajikan teorinya tentang kebenaran mengenai bumi datar.

Membuka Pikiran
    
Membaca buku The Flat Earth, serasa menjadi ujian bagi seseorang untuk membuka pikirannya. Bisa saja pembaca tersenyum geli dengan teori-teori antimainstream yang disajikan.
    
Namun mungkin saja pembaca terhipnotis dengan pernyataan-pernyataan yang di luar dugaan dan mendobrak kemapanan soal teori ilmu bumi yang telah berabad-abad diakui.
    
Buku ini sesuai dibaca semua kalangan terutama mereka yang haus pada ilmu pengetahuan dan pecinta fiksi ilmiah yang mendebarkan.
    
Secara umum buku disusun secara sistematis dan menarik dengan bahasa yang populer dan mudah dicerna.
    
Namun di satu sisi kalimat-kalimat kutipan yang panjang kerap kali membawa pembaca untuk terlebih dahulu bosan sebelum mencerna informasi yang ada di dalamnya.
    
Buku ini juga luput menyajikan informasi tentang penulis secara detail.
    
Di sisi lain, buku ini menjadi cara baru bagi siapapun yang ingin mengetahui ada konsep-konsep lain yang dipercaya sebagai kebenaran bagi sebagian yang lain.
    
Buku ini menjadi semakin menarik tatkala perwajahan sampul dan lay out di dalamnya dilengkapi dengan gambar-gambar pendukung. Maka buku ini sangat layak menjadi teman minum kopi di hari libur panjang. (Ant/BPJ).

Editor: M. Tohamaksun

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga