Minggu, 23 Juli 2017

Air Sungai Cilemahabang Bekasi Tercemar

id pencemaran, limbah industri, PJT II Lemahabang, Perum Jasa Tirta, sungai Cilemahabang, Warga Kampung Tirta Agung, Desa Waluya, BPLH Kabupaten Bekasi,
Air Sungai Cilemahabang Bekasi Tercemar
Ilustrasi - Saluran limbah dari industri yang mengalir ke sungai. (Foto Antara/ M Ali Khumaini/Dok)
Bau menyengat dan warna hitam pada air itu, diketahui terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Cikarang, Bekasi (Antara Megapolitan) - Perum Jasa Tirta (PJT) II Lemahabang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat membenarkan telah terjadi pencemaran pada air aliran sungai Cilemahabang berubah berwarna hitam dan mengeluarkan bau tak sedap akibat pembuangan limbah industri di kawasan hulu sungai daerah itu.

"Ini disebabkan oleh limbah industri cair dan padat yang dilakukan oleh industri daerah setempat," kata Supervisor Sungai dan Irigasi PJT II Lemahabang, Suwanda Halim di Lemahabang, Kamis.

Penjelasan itu dikemukannya menanggapi keluhan Warga Kampung Tirta Agung, Desa Waluya, Kecamatan Cikarang Utara terkait kondisi air sungai Cilemahabang berubah berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau tidak sedap di daerahnya.

"Guna memastikan pencemaran ini, telah dilakukan uji sempel agar terungkap tingkat kandungan pencemarannya," katanya.

Pengujian ini menggunakan laboratorium Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kabupaten Bekasi. Selain itu investigasi langsung dilakukan bersama BPLH.

Dari hasil uji sample terungkap, air pada aliran sungai terdapat kandungan logam, pewarna, dan juga kimia lainnya.

Padahal masyarakat sekitar, katanya memanfaatkan air pada aliran sungai untuk keperluan mandi, cuci, dan juga memasak, pengairan sawah.

Ia menyatakan prihatin terkait air dari aliran sungai itu juga diambil untuk keperluan minum bahkan dikonsumsi oleh anak kecil.

Dari hasil penelusuran, ia menyatakan tercemarnya sungai Cilemahabang merupakan imbas adanya pembuangan limbah cair dari sejumlah kawasan industri yang berada di daerah hulu sungai, dan ini sudah berlangsung sejak lama.

"Bau menyengat dan warna hitam pada air itu, diketahui terjadi dalam beberapa bulan terakhir," katanya.

Terkait tindakan, ia menjelaskan wewenang ada pada BPLH. "Kita terus berkomunikasi dengan instansi terkait mencari solusi terbaik," katanya.

Namun ia menyayangkan hingga kini belum ada tanggapan resmi dari instansi terkait terutama penindakan dan pemberian sanksi.

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga